Thursday, January 31, 2013

Metode Pendidikan dalam Perspektif Islam



Jejen Musfah, Dosen FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
  
A.     Pendahuluan
Menurut Ibnu Khaldun, ilmu-ilmu pengetahuan dalam kaitannya dengan proses pendidikan, sangat tergantung pada guru dan bagaimana mereka mempergunakan berbagai metode yang tepat dan baik. Oleh karena itu, guru wajib mengetahui faidah dari metode yang digunakan (Ahmad, 1975: 300). Mutu guru sangat terkait dengan kemampuannya memahami metode pendidikan dan keterampilan menggunakan metode tersebut di depan para siswa, sehingga proses pendidikan berlangsung efektif dan menyenangkan.
Menurut Chunaimah (1952: 177), metode mengajar berarti suatu cara yang harus dilalui untuk menyajikan bahan pengajaran agar tercapai tujuan pengajaran. Sedangkan Al-Abrasyi (h. 257) berpendapat, metode mengajar adalah jalan yang kita ikuti untuk memberikan pengertian kepada murid-murid tentang segala macam materi dalam berbagai pelajaran.
Metode pengajaran atau pendidikan adalah suatu cara yang digunakan pendidik untuk menyampaikan materi pelajaran, keterampilan, atau sikap tertentu agar pembelajaran dan pendidikan berlangsung efektif, dan tujuannya tercapai dengan baik. Guru harus menguasai materi pengajaran dengan baik, sehingga ia mudah memilih metode yang tepat untuk mengajarkannya.
Menurut Sa’id (1995: 119), pemilihan metode mengajar harus mempertimbangkan hal-hal berikut ini:
1.    Memerhatikan tujuan pembelajaran. Jika tujuannya adalah agar siswa memperoleh pengetahuan dan informasi, maka metode yang tepat adalah ceramah dan diskusi; jika tujuannya adalah agar siswa memperoleh keterampilan tertentu, maka metode yang tepat adalah praktik.
2.    Memerhatikan kebutuhan dan usia siswa. Terkadang diperlukan mengemukakan pendapat siswa saat penggunaan metode ceramah, atau berdebat saat diskusi, atau percobaan saat praktik.

B.     Pembahasan
1. Metode Perumpamaan ( Amtsâl)
Metode perumpamaan adalah metode pendidikan yang digunakan pendidik kepada anak didik dengan cara memajukan berbagai perumpamaan agar materinya mudah dipahami. Dalam QS Al-Zumar: 27 disebutkan: Dan sungguh kami telah membuat bagi manusia di dalam Al-Quran ini setiap perumpamaan, supaya mereka mendapat pelajaran.
Al-Thabari menafsirkan ayat ini bahwa Allah Swt. telah memberikan perumpamaan bagi mereka orang-orang musyrik Quraisy dengan berbagai contoh dari umat-umat terdahulu agar mereka takut dan sebagai peringatan supaya mereka mendapat pelajaran, (1978: 136). Ayat ini merupakan dalil naqli bahwa Islam menggunakan perumpamaan sebagai metode dalam menyeru manusia pada kebenaran sehingga ia beriman dan beramal saleh.  
Al-Ajami menulis (2006: 139) beberapa manfaat metode perumpamaan:
1) Mengandung unsur-unsur yang menarik dan menyenangkan;
2) Memperjelas makna dengan mengaitkan sesuatu yang abstrak dengan sesuatu yang konkrit;
3) Mendorong sikap positif;
4) Meninggalkan sikap negatif.
Saya menambahkan satu poin manfaat metode ini, yaitu:
5) Mempermudah pemahaman materi yang sulit.
Pengaruh metode ini dalam pendidikan Islam adalah anak didik mengambil pelajaran dan nasihat yang terkandung di dalam perumpamaan (lihat QS Al-Ankabut: 43; QS Al-Isra: 89). Di antara beberapa perumpamaan yang dimajukan Al-Quran adalah sebagai berikut: Pertama, QS Al-Hasyr: 21, “Kalau sekiranya Kami turunkan Al-Quran ini di atas gunung, niscaya engkau lihat ia tunduk dan terpecah karena takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu dibuat-Nya untuk manusia supaya mereka berfikir.    
            Al-Zamakhsyari menafsirkan ayat ini bahwa diumpamakannya gunung yang seandainya diturunkan kepadanya Al-Quran, pastilah ia tunduk kepada Allah Swt., bertujuan  untuk mencela manusia karena kekerasan hati mereka dan tidak ber-tadabbur (mengambil pelajaran) ketika membaca Al-Quran, (Jilid 4: 509).  
Kedua, Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah Telah membuat perumpamaan kalimat yang baik, seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat, (QS Ibrahim: 24-25).
 Ketiga, QS Al-Baqarah: 26, “Sesungguhnya Allah tiada segan membuat perumpamaan berupa nyamuk atau yang lebih rendah dari itu. adapun orang-orang yang beriman, Maka mereka yakin bahwa perumpamaan itu benar dari Tuhan mereka, tetapi mereka yang kafir mengatakan: "Apakah maksud Allah menjadikan Ini untuk perumpamaan?." dengan perumpamaan itu banyak orang yang disesatkan Allah, dan dengan perumpamaan itu (pula) banyak orang yang diberi-Nya petunjuk. dan tidak ada yang disesatkan Allah kecuali orang-orang yang fasik.”
Keempat, QS Al-Ankabut: 41, “Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. dan Sesungguhnya rumah yang paling lemah adalah rumah laba-laba kalau mereka Mengetahui.” Beberapa perumpamaan Al-Quran tersebut memudahkan pemahaman. Al-Quran memajukan perumpamaan positif dan negative, sehingga pembaca dan pendengar—dengan akal budi dan akal pikirannya—mampu memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk.
 Seorang guru harus rajin membaca, berfikir, dan kreatif, agar bisa menemukan perumpamaan-perumpamaan saat akan mengajar, atau saat ia secara tiba-tiba harus menyampaikannya. Guru juga harus membiasakan diri menyampaikan perumpamaan dalam mengajar, agar mahir dan terbiasa. Guru menjelaskan perumpamaan tersebut, agar siswa yang belum paham dapat mengerti maknanya. Guru bisa memperoleh perumpamaan dari Al-Quran, Hadis, dan sumber lainnya. Kadang guru meminta siswa menjelaskan perumpamaan yang serupa dengan perumpamaan yang telah dimajukan guru untuk memancing kreatifitas dan daya fikir siswa.

2. Metode Kisah
            Metode kisah adalah mendidik dengan cara menyampaikan kisah agar pendengar dan pembaca meniru yang baik dan meninggalkan yang buruk, serta agar pembaca beriman dan beramal saleh.
Al-Quran menegaskan pentingnya metode kisah ini dalam Surat Yusuf, ayat 111, Sesungguhnya pada kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang yang berakal. Al-Thabari menafsirkan ayat ini yang berkenaan dengan kisah Nabi Yusuf, bahwa  terdapat pelajaran (‘ibrah), dalam kisah Nabi Yusuf dan saudara-saudaranya bagi orang-orang yang mempunyai akal sekaligus sebagai nasihat bagi mereka, (Jilid 6: 59). Sedangkan menurut Al-Zamakhsyari, bahwa dhamir yang ada pada kata qashashihim adalah bagi para rasul (jamak) tidak hanya pada kisah Nabi Yusuf saja. Tegasnya, bahwa pada diri para rasul itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal, (Jilid 2: 511).   
Kisah memengaruhi rasa dan membekas dalam jiwa. Pengungkapan kisah memberikan gambaran nyata tokoh-tokoh yang ada di dalamnya sehingga tampak nyata dan mudah diambil pelajaran. Kisah juga menarik anak-anak dan orang dewasa. Semua usia tertarik dengan kisah.
Al-Quran menjadikan kisah sebagai pusat dakwah: Yusuf: 111; Dan kalau kami menghendaki, Sesungguhnya kami tinggikan (derajat)nya dengan ayat-ayat itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan menurutkan hawa nafsunya yang rendah, Maka perumpamaannya seperti anjing jika kamu menghalaunya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya (juga). demikian Itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat kami. Maka Ceritakanlah (kepada mereka) kisah-kisah itu agar mereka berfikir, QS Al-A’raf: 176.
Peran kisah menguatkan hati Rasul, sebagaimana bunyi QS Hud: 120 berikut ini, Dan semua kisah dari rasul-rasul kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya kami teguhkan hatimu; dan dalam surat ini telah datang kepadamu kebenaran serta pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang beriman.
Menurut Al-Ajami (2006: 135), ciri-ciri kisah Al-Quran adalah sebagai berikut:
Pertama, benar-benar terjadi. Kisahnya menumbuhkan nilai-nilai pendidikan bagi anak-anak dan meningkatkan nilai-nilai pendidikan bagi orang dewasa. QS Al-Imran: 62, Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, ... ; QS Al-Kahfi: 13, Kami kisahkan kepadamu (Muhammad) cerita ini dengan benar. Sesungguhnya mereka adalah pemuda-pemuda yang beriman kepada Tuhan mereka, dan kami tambah pula untuk mereka petunjuk.
Kedua, sebagai sarana bukan tujuan. Kisah dalam Al-Quran memiliki tujuan akidah, pendidikan, dan kejiwaan.
Ketiga, metode penyampaiannya beragam.
Kisah dalam Al-Quran ada empat macam: pertama, kisah para nabi dan umatnya; kedua, kisah umat masa lalu, seperti Thalut dan Jalut, ashhabul kahfi, ashhabul ukhdud, dan Dzul Qarnain; ketiga, kisah peperangan pada masa Nabi, seperti perang Badar dan Uhud; Kisah hijrah dan Isra Mi’raj; keempat, kisah tentang hal ghaib, akhirat. (Al-Ajami, 2006: 135-136)
Beberapa hal perlu diperhatikan sebelum menyampaikan kisah. Pertama, kisah harus memerhatikan pembaca dan pendengar dalam mengambil pelajaran; kedua, memenuhi selera pembaca dengan ragam kisah: kisah Al-Quran, para nabi, para sahabat, pejuang muslim, dan orang saleh; ketiga, menghindari kisah yang menimbulkan ketakutan, kecemasan, kegelisahan bagi anak-anak; keempat, menghindari kisah yang hedonis, horor, dan perilaku buruk, dan mencela orang lain.
Di bawah ini merupakan bagan Perbedaan Kisah Al-Quran dengan Kisah Sastra dan Seni.

No
Kisah-kisah Al-Quran
Kisah-kisah Sastra dan Seni
1
Merupakan sarana
Terkadang merupakan tujuan
2
Realitas/Benar terjadi
Mayoritas khayalan
3
Singkat dan padat
Bertele-tele

            Materi kisah mudah didapat oleh guru dari banyak sumber. Masalahnya, penyampaian kisah memerlukan keterampilan khusus, agar menarik siswa. Maka guru perlu belajar keterampilan bercerita. Ia bisa belajar mandiri atau belajar kepada rekan sejawat yang lebih berpengalaman dalam metode kisah. Para guru juga bisa mengajukan program pelatihan pada sekolah terkait kiat-kiat bercerita, dengan mendatangkan pembicara yang ahli dari luar sekolah.
            Guru harus bisa memetik hikmah dan pelajaran dari sebuah cerita, untuk disampaikan kepada siswa. Pelajaran tersebut harus relefan dengan kondisi dan zaman para siswa. Guru bisa melibatkan siswa untuk menemukan pelajaran-pelajaran yang terkandung dalam kisah melalui tanya-jawab.
Sebelum menyampaikan kisah, guru harus memerhatikan beberapa hal berikut ini (Majid, 1956: 30-32):
1.      Memilih kisah;
2.      Menyiapkan kisah sebelum masuk kelas;
3.      Posisi duduk para siswa saat penyampaian kisah.
Setiap orang memiliki kemampuan berbeda dalam penyampaian kisah. Ada yang bagus dalam menyampaikan cerita hewan, humor, kriminal, dst. Guru juga harus memilih cerita yang menyenangkan atau cerita yang menyedihkan, atau gabungan keduanya.
Persiapaan guru sebelum memasuki kelas akan mempermudah guru dalam menyampaikan kisah, sebab sebelumnya guru telah memikirkan hal-hal yang terkait dengan kisah.
Saat menyampaikan kisah, posisi para murid harus diatur sedimikian rupa, sehingga mereka bisa mendengar suara dan melihat gerakan gurunya dengan jelas. Misalnya, murid duduk membentuk setengah lingkaran, dan guru berdiri di tengah lingkaran, seperti gambar ini:



 






3. Metode Targhîb-Tarhîb
            Kata targhîb diambil dari bahasa Al-Quran, berasal dari kata kerja ragghaba yang artinya: menyenangi, menyukai. Targhîb berbentuk isim mashdar mengandung arti suatu harapan untuk memperoleh kesenangan dan kebahagiaan.
            Metode targhib adalah pendidikan dengan menyampaikan berita gembira/ harapan kepada pelajar melalui lisan maupun tulisan, agar pelajar menjadi manusia yang bertakwa. Sedangkan metode tarhib adalah pendidikan dengan menyampaikan berita buruk/ ancaman kepada pelajar melalui lisan maupun tulisan, agar pelajar menjadi manusia yang bertakwa.
Penggunaan metode targhîb-tarhîb didasari pada asumsi bahwa tingkat kesadaran manusia sebagai makhluk Tuhan itu berbeda-beda. Ada yang sadar setelah diberikan kepadanya berbagai nasihat dengan lisan, dan ada pula yang harus diberikan ancaman terlebih dahulu baru ia akan sadar. Ayat yang berupa targhîb dapat dilihat pada QS Al-Anfal: 29, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya dia akan memberikan kepadamu furqan dan menghapus kesalahan-kesalahanmu serta mengampuni dosamu, dan Allah mempunyai karunia yang besar.”
            Al-Thabari menjelaskan bahwa orang-orang yang telah membenarkan Allah dan rasul-Nya, taat kepada-Nya, menjalankan segala yang diperintahkan dan menjauhi kemaksiatan, serta tidak berkhianat kepada rasul dan amanah yang diberikan kepadanya, Allah akan memberikannya furqan, pembeda antara yang hak dan yang batil, sekaligus menghapus kesalahan yang telah diperbuat. Sedangkan ayat yang mengandung indikasi metode tarhîb terdapat dalam QS At-Taubah: 74,
Mereka orang-orang munafik itu bersumpah dengan nama Allah, bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu). Sesungguhnya mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran, dan telah menjadi kafir sesudah Islam dan mengingini apa yang mereka tidak mencapainya; dan mereka tidak mencela Allah dan Rasul-Nya, kecuali karena Allah dan Rasul-Nya telah melimpahkan karunia-Nya kepada mereka. Maka jika mereka bertaubat, itu adalah lebih baik bagi mereka, dan jika mereka berpaling, niscaya Allah akan mengazab mereka dengan azab yang pedih di dunia dan akhirat; dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pelindung dan tidak (pula) penolong di muka bumi.”
            Ibnu Jarir Al-Thabari menjelaskan bahwa, ayat ini turun ketika seorang yang bernama Jalas bin Suwaid bin Ash-Shamit berkata: jika apa yang didatangkan oleh Nabi Saw. itu kebenaran, maka sungguh kita itu lebih sesat daripada keledai. Hal ini diadukan kepada Nabi. Kemudian Suwaid bersumpah atas nama Allah, padahal ia telah mengucapkan kalimat kufur. Turunlah ayat ini dan Nabi pun menasihatinya.
            Keimanan seseorang naik turun. Karena itu, ia harus sering membaca Al-Quran, agar hati dan akalnya cenderung pada iman. Menjadi manusia beriman merupakan tujuan tertinggi pendidikan.
            Dalam Al-Quran terdapat berita gembira bagi orang yang taat, dan ancaman siksa, kerugian, dan kesengsaraan bagi orang yang kufur. Seorang guru harus bisa menginspirasi siswanya menjadi pribadi yang beriman melalui ayat-ayat targhib dan tarhib. Maka, seorang guru muslim harus mengenal Al-Quran dengan baik. Kecuali itu, ia harus bisa mengaitkan ayat-ayat itu dengan realitas keseharian siswanya, sehingga makna ayat-ayat itu benar-benar ditujukan buat mereka.
            Metode ini sesuai dengan kejiwaan manusia, bahwa manusia menyukai kesenangan dan kebahagiaan, dan ia membenci kesengsaraan dan kekurangan. Guru harus bisa meyakinkan siswa agar mereka selalu cenderung pada iman dan kebaikan, dan menghindari kekufuran.

4. Metode Dialog (Hiwar)
            Hiwar adalah dialog antara satu orang dengan yang lainnya. Hiwar dalam Al-Quran adalah segala bentuk dialog yang disajikan dalam Al-Quran, baik dialog Allah dengan para malaikat, dengan para rasul, dengan makhluk lainnya, maupun dialog antara manusia dengan sesamanya.
            Menurut Al-Nahlawi (2001: 206), dialog adalah percakapan dua orang atau lebih, melalui tanya jawab, mengenai satu tema atau tujuan. Mereka berdiskusi tentang permasalahan tertentu, kadang diperoleh hasil, kadang satu sama lain tidak puas. Namun pendengar tetap mendapatkan pelajaran.
            Dalam Al-Quran hanya terdapat tiga ayat saja yang secara langsung menggunakan kata muhawarah dan kata jadiannya. Dua ayat terdapat pada QS Al-Kahfi, yang berisi dialog antara pemilik kebun yang kaya raya dengan seorang sahabatnya yang miskin. Ayat ketiga terdapat dalam QS Al-Mujadalah ayat 1, yaitu tentang peristiwa seorang wanita yang datang kepada Rasulullah untuk mengadukan keadaan suaminya. Dalam QS Al-Kahfi: 37 disebutkan:
Kawannya yang mukmin berkata kepadanya ketika dia bercakap-cakap dengannya, ”apakah kamu kafir kepada Tuhan yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, kemudian dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna.”
            Dalam menafsirkan ayat ini Ath-Thabari berkata, ayat ini menjelaskan tentang pemberian nasihat seorang yang mempunyai sedikit harta dan anak kepada temannya yang mempunyai dua kebun agar tidak kufur kepada Allah, dengan cara berbicara dan berdialog langsung kepadanya, (Jilid 7: 162).
            Secara terminologis, hiwar dalam Al-Quran dapat diartikan sebagai dialog, yakni suatu percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih yang dilakukan melalui tanya jawab. Di dalamnya terdapat kesatuan topik pembicaraan dan tujuan yang hendak dicapai dalam pembicaraan itu. Metode hiwar merupakan cara penyampaian nilai-nilai pendidikan yang digunakan di dalam Al-Quran.
            Metode ini memiliki kelebihan dibanding dari metode lainnya. Kelebihannya adalah pesan disampaikan secara langsung. Bagaimana respon yang bersangkutan dapat diketahui. Karena itu, si pemberi pesan dapat menanyakan dan atau memberi penjelasan yang lebih masuk akal dan lebih sesuai dengan hati lawan bicaranya. (Perlu diketahui bahwa metode ini sering digunakan oleh Rasulullah Saw. dalam menyampaikan ajaran Islam)
Metode ini melibatkan murid dalam pengajaran. Guru yang menjalankan metode ini bisa mengaktifkan akal, menguatkan mereka dalam persiapan menerima pengetahuan baru, dan menumbuhkan kecintaan pada kebenaran (Al-Ajami, 2006: 143). Metode ini juga meningkatkan hubungan antara orang tua dan anak, guru dan murid, melatih siswa mengungkapkan pikirannya, bahasa percakapan menunjukkan hubungan manusia dengan yang lainnya, dan menjauhkan para pelajar dari taklid buta dan pembangkangan.
Berikut ini adalah beberapa contoh hiwar Al-Quran:
1.    Hiwar Allah dengan para malaikat dalam penciptaan Adam. QS 2: 30, Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." mereka berkata: "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?" Tuhan berfirman: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."
2.    Hiwar Allah dengan para rasul. Hiwar dengan Musa. Allah berfirman, Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman," QS Al-A’raf 143. (Lihat pula QS Tha Ha: 18-20 dan Al-Maidah: 117)
3.    Hiwar Musa dengan Khidir (QS Al-Kahfi).
4.    Hiwar para penghuni surga.
5.    Hiwar para nabi dengan kaum mereka. Nuh, Syuaib, dan Ibrahim.
6.    Hiwar Allah dengan manusia di akhirat. Dan seandainya kamu melihat ketika mereka dihadapkan kepada Tuhannya (tentulah kamu melihat peristiwa yang mengharukan). Berfirman Allah: "Bukankah (kebangkitan Ini benar?" mereka menjawab: "Sungguh benar, demi Tuhan kami". Berfirman Allah: "Karena itu rasakanlah azab ini, disebabkan kamu mengingkari(nya)," QS Al-An’am: 30. Allah bertanya: "Berapa tahunkah lamanya kamu tinggal di bumi?" Mereka menjawab: "Kami tinggal (di bumi) sehari atau setengah hari, Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang menghitung," QS Al-Mukminun: 112-113.
Pembelajaran efektif terjadi saat ada interaksi antara guru dan siswa. Guru bertanya, murid menjawab; atau sebaliknya. Maka, guru dapat menilai pemahaman siswa terhadap materi yang diajarkannya. 
 Dalam menyampaikan metode diskusi guru bisa melakukan langkah-langkah berikut ini (Syarhan, 2003: 93):
1.    Mengumumkan kepada siswa bahwa akan diadakan metode diskusi;
2.    Menegaskan kebebasan berpendapat dan berfikir seputar tema pembahasan;
3.    Menetapkan waktu setiap sesi diskusi, dan menjelaskan materi pelajaran untuk mengetahui tingkat pemahaman dan kesulitan siswa terhadap materi;
4.    Mengatur meja di kelas dan membagi murid-murid dalam kelompok dengan baik, sehingga siswa duduk untuk mengikuti diskusi. Jumlah per kelompok sekitar 5-7 siswa.
5.    Memberikan kesempatan kepada semua siswa untuk berdiskusi dengan baik.
Guru dapat meyiapkan pertanyaan-pertanyaan sebelum pembelajaran dimulai, dari yang mudah hingga yang sulit. Guru tidak boleh menyalahkan jawaban siswa, namun menghargainya dengan ucapan yang baik: “Pendapat yang bagus, tapi ada jawaban yang lebih tepat dari ini.” Guru juga tidak boleh emosi saat para murid bertanya atau berbeda pendapat dengannya. Guru harus bisa tetap tenang, dan menjawab sesuai pengetahuannya; ia harus jujur jika belum mengetahui jawabannya. Ini akan berdampak lebih positif bagi siswa, karena ia menunjukkan bahwa guru bukan orang tahu segalanya. Guru professional bukan berarti bahwa guru bisa menjawab setiap pertanyaan para siswa. Bisa jadi siswa saat ini lebih banyak menerima informasi dibanding gurunya.

5. Metode Teladan (Uswah Hasanah)
      Ada manusia yang terpengaruh oleh metode teladan, ada yang cocok dengan percakapan, ada yang lebih bermanfaat baginya metode kisah, dan seterusnya. Menurut Al-Ajami (2006: 131) beberapa aspek penting pendidikan dalam teladan adalah:
1) Manusia saling memengaruhi satu sama lain melalui ucapan, perbuatan, pemikiran, dan keyakinan;
2) Perbuatan lebih besar pengaruhnya dibanding ucapan;
3) Metode teladan tidak membutuhkan penjelasan.
Umar bin Utbah berkata kepada guru anaknya: “Hal pertama yang harus Anda lakukan dalam mendidik anakku adalah memperbaiki dirimu sendiri, karena matanya melihatmu. Kebaikan baginya adalah apa yang kau lakukan, dan keburukan adalah apa yang kau tinggalkan.” (Al-Ajami, 2006: 132)
Dikatakan: carilah guru yang baik agamanya untuk mengajar anakmu, karena agama anak tergantung pada agama gurunya. Rasul adalah teladan utama bagi muslimin, QS Al-Ahzab: 21. Ia teladan dalam keberanian, konsisten dalam kebenaran, pemaaf, rendah hati dalam pergaulan dengan tetangga, pada sahabat, dan keluarganya. Pendidik harus meneladani Rasul dan para sahabat.
Perbuatan satu orang di hadapan seribu orang lebih baik dibanding perkataan seribu orang di hadapan satu orang (Fi’lu rajulin fî alfi rajulin khairun min qauli alfi rajulin fi rajulin). Betapa kita membutuhkan pendidik yang saleh dalam akhlak, perbuatan, dan sifat, yang bisa dilihat oleh muridnya sebagai contoh. Al-Ajami menulis (2006: 133) bahwa, para murid bisa lupa perkataan pendidik, tapi mereka tidak akan pernah melupakan sikap dan perbuatannya.
Al-Quran mencela orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? QS Ash-Shaf: 2. Jangan melarang sesuatu sedangkan engkau melakukannya, aib besar jika engkau melakukannya (Lâ tanha ‘an khuluqin wa ta’tiya mitslahu ‘Ârun ‘alaika idzâ fa’alta ‘adzîmu)—lihat juga dalam QS Maryam: 28.
Metode keteladanan berarti memberikan contoh yang baik (uswah hasanah) dalam setiap ucapan dan perbuatan kepada anak didik. Sifat dan sikap yang telah dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw. sepanjang hidupnya merupakan contoh yang baik untuk konteks ini. Cukup beralasan, karena beliau adalah cermin kandungan Al-Quran secara utuh. Allah berfirman dalam QS Al-Ahzab: 21: “Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang-orang yang mengharapkan rahmat Allah dan hari akhir, dan dia banyak mengingat Allah.”
            Dalam diri Nabi Muhammad, seolah-olah Allah ingin menunjukkan suatu petunjuk tentang metode pendidikan Islam. Muhammad merupakan teladan terbesar bagi segenap umat manusia. Muhammad adalah seorang pendidik, pejuang dan seorang yang memberikan bimbingan dan petunjuk kepada umat manusia dengan berbagai Sunahnya. Dalam ayat lain, disebutkan: “Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang bersama dia...,” (QS Al-Mumtahanah: 4).
Ibnu Jarir menafsirkan kata “uswah” dengan “qudwah”, yaitu ikutan atau teladan yang baik pada diri Nabi Ibrahim a.s. dan orang-orang yang bersamanya, (Jilid 10: 41). Allah menjadikan keteladanan pada setiap para rasul yang diutus-Nya tidak hanya sekadar untuk dikagumi, tapi untuk diikuti dalam praktik kehidupan sehari-hari. Terutama dalam menanamkan pendidikan Islam, seperti pembinaan akhlak dan nilai-nilai yang luhur kepada anak didik.
            Kepribadian guru akan memengaruhi respon siswa saat pembelajaran. Kompetensi profesional dan pedagogis tidak akan efektif jika kepribadian guru tidak matang. Siswa akan apatis, meskipun yang disampaikannya benar. Maka, selain harus selalu belajar, guru juga harus melatih jiwanya agar kepribadiannya matang. Membaca Al-Quran, zikir, dan tadabur alam, merupakan metode pendidikan hati agar hati bersih, sehingga yang bersangkutan berkepribadian mantap.

6. Metode Latihan dan Praktik (Tajribah)
   Metode ini lebih mudah dipahami dan dipelajari karena menampilkan ucapan pada perbuatan, teori pada praktik dan latihan. Manfaat metode ini adalah mewujudkan hubungan antara ilmu dan hasilnya, menghasilkan kemahiran dan kecermatan yang tinggi, merangsang muslim untuk melakukan kewajibannya, memunculkan kebahagiaan individu karena ia melihat hasil kesungguhannya, dan terakhir mengurangi kesalahan dan menambah kesungguhan.
Latihan merupakan penerjemahan teori-teori ilmu dan petunjuk-petunjuk Al-Quran dan Sunnah dalam bentuk perbuatan nyata. Seorang pendidik muslim harus memerhatikan perkembangan sikap dan memahami bahwa kemajuan belajar siswanya berkaitan erat dengan latihan-latihan dan pengalaman langsung yang mereka hadapi. Kecuali itu, ia juga harus menunjukkan pebuatan dan praktik yang dipelajari murid dalam kehidupan nyata mereka, sehingga jelas bagi mereka antara teori dan praktik.
QS Al-Kahfi: 66-73, memaparkan tentang pengalaman yang dialami oleh Nabi Musa dalam menuntut ilmu kepada Nabi khidir. Dalam kisah tersebut digambarkan pengamalan langsung sebagai upaya pendidikan, yakni bagaimana Nabi Musa harus berlatih kesabaran dalam menerima pendidikan dari Nabi Khidir. Latihan pengamalan dimaksudkan sebagai latihan secara terus menerus. Artinya, orang harus belajar melakukan sesuatu sepanjang hidupnya.
Berikut ini contoh diskusi yang terjadi di halaqah Abu Hanifah. Pada suatu hari setelah salat Subuh, Abu Hanifah memulai perkuliahannya. Beliau mengucapkan salam pembuka lalu mempersilahkan kepada seluruh siswa untuk menyampaikan persoalan yang akan dibahas pada pagi itu. Tidak beberapa lama Fadhil bin Athiyah menyampaikan suatu hadis yang tidak dia mengerti kandungannya. Hadis itu berbunyi: “Melahirkan anak zina merupakan kejahatan yang ketiga.” Lalu Abu Hanifah menunjuk salah seorang siswanya (Muhammad) untuk menjelaskan maksud dari hadis tersebut. Muhammad menjawab: “Innâ lillâh, dalam hadis itu tidak disebutkan oleh Nabi Saw. nasab dari anak itu. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak dihalalkan atau tidak diperbolehkan.”
Lalu siswa B mengatakan, telah dijelaskan dalam Al-Quran dan hadis Nabi Saw. bahwa seseorang tidak menanggung dosa orang lain. Begitu pun halnya dengan anak zina itu, sebagaimana firman Allah dalam QS Al-An’am: 164. Diskusi semakin hangat, terlebih lagi masing-masing siswa mengeluarkan dalil Al-Quran yang berkaitan dengan hal tersebut. Diantaranya firman Allah QS Al-Isra: 7, QS Al-Baqarah: 286, QS An-Najm: 31, QS Al-Kahfi: 49, QS An-Nahl: 118, dan lain sebagainya.
Lalu siswa C berkata, masing-masing kita tadi sudah menyampaikan dalil Al-Quran sehingga telah jelaslah bagi kita bahwa, seseorang tidak akan memikul dosa orang lain. Dengan demikian, barangsiapa yang mengatakan suatu perkara yang bertentangan dengan dalil-dalil tersebut di atas, maka ia akan dikenai siksa sebagai pelaku dosa besar.
Perdebatan terus berlangsung, Abu Hanifah hanya menyimak dan mendengarkannya saja. Namun sampai beberapa saat lamanya, belum juga ditemukan pemecahannya. Melihat hal tersebut Abu Hanifah—yang berlaku sebagai fasilitator—memberikan arahan dan pandangan bahwa, permasalahan itu tidak terletak pada anak zina yang lahir sebagai hasil zina dan dibebani dosa orang tuanya. Akan tetapi, permasalahan terletak pada perbuatan orang tuanya yang melakukan zina, sehingga lahirlah anak zina. Karena pasangan itu telah melakukan zina, maka hal itu merupakan kejahatan yang besar, sebagaimana halnya membunuh dan mencuri. Sehingga, perbuatan itu tergolong dosa besar pada tingkatan ketiga. Namun pasangan tersebut tidak dihukumi kafir. Akan tetapi, perbuatan zina itulah yang kafir. Sehingga, dikatakan bahwa berzina suatu kejahatan yang ketiga. Mendengar penjelasan dari Abu Hanifah para siswa mengerti dan memahami maksud dari hadis tersebut. Sebagai penutup Abu Hanifah menyarankan kepada para siswa agar memahami secara benar hadis Nabi Saw. yang telah mereka terima dari orang lain. Karena itu, barangsiapa yang mendapatkan suatu hadis nabi Saw. dan ia tidak mengerti maksud dari hadis tersebut, maka hal itu akan membawa kemudaratan baginya dan sia-sialah usahanya. (Dakar, 1988:152-3).
Membaca teori kadang lebih sukar dan terasa lebih berat dibanding melakukan praktik secara langsung. Karena itu, guru harus menyediakan kesempatan sebanyak mungkin bagi siswa untuk melakukan latihan dan praktik, dengan fasilitas yang tersedia.
Latihan harus dilakukan terus-menerus hingga siswa menguasai keterampilan tertentu. Maka tugas guru adalah memotivasi siswa agar tidak bosan, bersemangat, pantang menyerah, dan tekun. Kecuali itu, guru harus menjelaskan manfaat hasil pelatihan tersebut bagi siswa, sehingga siswa termotivasi.
Kadang fasilitas yang minim menyurutkan semangat guru untuk melakukan metode praktik. Namun guru tidak boleh menyerah pada keadaan. Ia harus kreatif memanfaatkan fasilitas yang ada dan terjangkau demi terwujudnya pelatihan bagi siswa.
Biasanya, pengalaman praktik mengajarkan siswa sulit tidaknya sesuatu, sehingga ia tahu kelebihan dan kekurangannya. Maka peran guru adalah memberikan pelatihan/ praktik lanjutan terkait dengan bagian yang dianggap sulit oleh siswa.

7. Metode Nasihat
Isyarat metode ini terlihat dalam tiga ayat Al-Quran berikut ini:
Pertama, QS Al-Dzariat: 55, Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.
Kedua, QS Ali Imran: 138 (Al-Quran) Ini adalah penerangan bagi seluruh manusia, dan petunjuk serta pelajaran bagi orang-orang yang bertakwa.
Ketiga,  QS Al-Nahl: 125: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik, sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”.
Menurut Al-Thabari (1978: 131), maksud kata al-hikmah adalah wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. Fungsi wahyu tersebut untuk menyerukan manusia ke jalan Tuhannya, yakni kepada syariat Islam. Al-Zamakhsyari dalam Al-Kassyâf (h. 644) menafsirkan al-hikmah dengan ucapan yang bijak dan benar, disertai dalil yang jelas dan dapat menghilangkan keraguan. Mauidzah hasanah adalah memberikan pengertian yang bermanfaat bagi mereka. Sedangkan mujâdalah, berdebat atau berdiskusi dengan cara yang lemah lembut tanpa berkata keji dan melakukan kekerasan.
Beberapa contoh metode nasihat dalam Al-Quran adalah QS Lukman: 13, “Dan (Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: ‘Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar’"; Nasihat para nabi pada umatnya dan nasihat para nabi pada anak-anak mereka, seperti nabi Nuh, dan Ya’kub pada anak-anaknya.
Menurut Al-Ajami (2006: 139-142), ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh para pendidik, orang tua, dan para dai  dalam memberikan nasihat:
1. Memberi nasihat dengan perasaan cinta dan kelembutan. Nasihat orang-orang yang penuh kelembutan dan kasih sayang mudah diterima dan mampu merubah kehidupan manusia.
2. Menggunakan gaya bahasa yang halus dan baik. QS Ali Imran: 159, “Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
3. Meninggalkan gaya bahasa yang kasar dan tidak baik, karena akan mengakibatkan penolakan dan menyakiti perasaan. Metode para nabi dalam dakwah adalah kasih sayang dan kelembutan. QS Al-A’raf: 59, Sesungguhnya kami Telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu ia berkata: "Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Tuhan bagimu selain-Nya." Sesungguhnya (kalau kamu tidak menyembah Allah), Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).
4. Pemberi nasihat harus menyesuaikan diri dengan aspek tempat, waktu, dan materi (serta audiens—pen.).
5. Menyampaikan hal-hal yang utama, pokok, dan penting. QS Lukman: 17-18, “Hai anakku, dirikanlah salat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.”
Hal pertama yang disampaikan Lukman adalah akidah (pokok agama), lalu ibadah, lalu akhlak, dan akhirnya soal kemasyrakatan. Demikian pula yang dilakukan Nabi Muhammad di Makkah dan Madinah.
Terkait dengan poin keempat di atas, seorang pendidik harus menyiapkan bahan pelajaran sebelum pembelajaran, sehingga penjelasannya fokus—tidak melebar dan mengulang-ulang materi sebelumnya—dan siswa memperoleh sesuatu yang baru. Pendidik juga harus datang dan mengakhiri pelajaran tepat waktu. Kedisiplinan guru merupakan bagian proses pendidikan yang besar peranannya bagi perkembangan siswa. Guru yang sering terlambat masuk kelas atau mengakhiri pelajaran sebelum waktunya, tidak akan efektif dalam mengajar, karena siswa terlanjur memberikan stigma negatif baginya.  
Untuk menutup pembahasan mengenai metode pendidikan ini, saya kutipkan uraian Abdullah Nashih ‘Ulwan (2005: 533), “Betapa indahnya seorang ayah dan ibu berkumpul bersama anak-anaknya di sore hari. Pertemuan mereka diisi dengan hikmah dan pengajaran. Kadang dengan menyampaikan kisah, kadang nasihat, lain waktu dengan pembacaan syair, lain kali dengan mendengarkan bacaan, kadang dengan perlombaan. Demikianlah, mereka memakai metode yang beragam, sehingga anak terbentuk jiwa dan akhlaknya.”

C.     Kesimpulan
Demikianlah beberapa metode pendidikan dalam Islam. Hal ini menunjukkan bahwa cara menyampaikan ilmu dan pendidikan sangat bervariasi. Oleh karena itu, para pendidik harus menguasai metode pendidikan dan tidak boleh putus asa dalam mendidik. Tidak ada metode yang lebih baik dari metode yang lainnya. Setiap metode memiliki pengaruhnya masing-masing. Yang perlu diperhatikan pendidik adalah kemampuannya memilih metode yang sesuai dengan materi dan situasi saat pendidikan berlangsung, juga fasilitas yang tersedia.
Pemilihan metode yang tepat akan menentukan keberhasilan pendidikan, menyenangkan dan tidaknya proses pendidikan. Penerapan metode yang kurang tepat membuat proses pembelajaran dan pendidikan akan terasa membosankan, sehingga siswa sulit menerima pelajaran. Bahkan materi yang mudah akan terasa sulit. Mendidik dengan cara salah sering menimbulkan penolakan. Sebaliknya, ketepatan memilih metode akan membuat transfer ilmu dan sikap terasa mudah dan menyenangkan.
Karena itu, seorang pendidik harus sering berlatih dan berlatih, praktik dan praktik, disamping menguasai metodologi pengajaran dan pendidikan secara teoritis. Keterbatasan fasilitas sekolah—yang sering terjadi—tidak boleh menghambat kreatifitas guru dalam menyampaikan metode tertentu yang menyenangkan.   


DAFTAR PUSTAKA

Abrasyi, Al-, M. Athiyah, h Al-Tarbiyah wa Al-Ta’lîm, (Kairo: Isa Al-Babi An-Nalabi & Co., t.th.).
Ahmad, Sa’ad Mursa, Tathawwur Al-Fikry Al-Tarbawy, (Kairo: Matabi’ Sabjal Al-Arabi, 1975).
Ajami, Al-, Muhammad Abdussalam, Al-Tarbiyah al-Islâmiyah: Al-Ushûl wa Al-Tathbîqât, (Riyadh: Dâr Al-Nâsyir Al-Daulî, 2006), Cet. I.
Chunaimah, Abd Ar-Rahmah, Târîkh Al-Jamî’ah Al-Islâmiyah, (Tatwan Maroko: Dar At-Tiba’at, 1952).
Dakar, Abdul Ghani, “Abu Hanifah”, dalam Min A’lâm Al-Tarbiyah Al-‘Arabiyah Al-Islâmiyah, (Beirut: Maktabah al-Tarbiyah al-‘Araby Liduali al-Khalij,1988).
Majid, Al, Abdul Aziz. 1956. Al-Qishshah fî Al-Tarbiyah; Ushûluhâ Al-Nafsiyah, Tathawwuruhâ, Mâdatuhâ wa Tharîqatu Sardihâ. Mesir: Darul Ma’arif. 
Nahlawi, Al-, Abdurrahman, Mau’idzat Al-Qulûb: Durûs wa Mawâqif Tarbawiyyah Hayyat min Al-Qurân wa Al-Sunnah, (Suriah: Dâr Al-Fikr, 2001 M./ 1422 H.)
Sa’id, M. M. M. “Al-Asâlîb Al-‘Âmah fî Al-Tadrîs”, dalam Basyir, Al-, Muhammad Muzammil, dan Muhammad Malik Muhammad Sa’id, Madkhal Ilâ Al-Manâhij wa Thuruq Al-Tadrîs, (Riyadh: Dâr Al-Liwâi Linnasyr wa Al-Tauzî’, 1995 M./ 1416 H.), Cet. II.
Syarhan, Jamal bin Abdul Aziz, Al-Mursyid fî Thuruq Al-Tadrîs; Irsyâdât Taujîhiyat wa Nashâih Tarbawiyat Lilmu’allim wa Al-Mu’allimat wa Al-Ustâdz Al-Jâmi’î, (Riyadh: Jami’ah Al-Malik Su’ud, 2003).
Thabari, Al-, Ibnu Jarir, Al-Tafsîr Al-Thabarî, (Beirut: Dar Al-Fikr, 1978).
‘Ulwan, Abdullah Nashih, Tarbiyat Al-Aulâd, (Kairo, Mesir: Dar Al-Salam, 2005), Jilid II, Cet. 40
Zamakhsyari, Al-, Tafsîr Al-Kasysyâf, (Dar al-Kitab al-‘Araby, t.th.).


No comments:

Post a Comment